Isekai Yurutto Survival Seikatsu Chapter 122 - 128「R18」Bahasa Indonesia

Setelah Badai. Bersama dengan Koki. Rahasia terungkap. Keadaan Grup Sasazaki... Light Novel Easy Survival Life in The Other World Chapter 122-128.

【122: Hari Ketika Rahasia Terungkap】

Selasa, 26 November.

Badai berlanjut pada hari ini juga.

Itu mengamuk tanpa menunjukkan tanda-tanda akan tenang.

"Kupikir, aku bisa lega." (Hokage)

Saat sarapan, aku mengatakan hal tersebut sambil memperhatikan cuaca yang mengamuk.

"Ya benar" Mana menjawab untuk kata kataku.

"Ini benar-benar tempat yang aman." (Hokage)

Keamanan tempat persembunyian lebih tinggi dari yang aku bayangkan.

Gelombang tinggi karena angin menerjang tempat persembunyian beberapa kali, tetapi tidak ada masalah sama sekali.

Bahkan pada saat yang paling parah, hanya sedikit percikan air yang masik.

Ketinggian air laut tidak berbahaya.

Ombak tidak akan pernah menghantam lorong.

"Tapi aku bosan! aku sangat bosan sekali!" (Arisa)

"Arisa mah kamu lebih bosan daripada orang lain ..." (Hokage)

"Padahal aku ingin memancing di spot yang aku temukan sebelumnya!" (Arisa)

Arisa telah memancing sejak kemarin, dia mengayunkan pancingan dari ruang terbuka ke arah laut dan menikmati memancing tanpa terkena basah oleh badai.

Semua orang berpikir, 'kalau dari sini pasti tidak akan mendapatkan ikannya,' tetapi pada kenyataannya, Arisa dapat memancing ikan secara normal.

Meskipun jumlahnya tidak sebanyak dari biasanya, Arisa masih bisa memancing satu ikan setiap dua jam.

Seperti yang diketahui pemancing manapun, hasilnya terlalu bagus mengingat lingkungan dan cuacanya.

"Yahh, mari kita habiskan waktu dengan bersantai hari ini." (Hokage)

Kami telah bersiap untuk musim dingin yang akan datang.

Oleh karena itu, kami dapat bertahan hidup bahkan jika badai berlangsung selama sebulan.

Meskipun sulit untuk mencuci piring, tetapi tidak ada masalah setelah itu.

Karena itu, tidak ada yang cemas.

◇ ◆ ◇

"Ayo, kalian bisa makan sebanyak yang kalian suka. Para pekerja keras." (Hokage)

"" "" ukyī ♪ "" ""

MVP dalam badai adalah pasukan tentara monyet.

Mereka ini akan bekerja terlepas dari hujan jika Mana yang memerintahkan.

Para monyet dipercaya untuk merawat hewan ternak dan mengumpulkan telur ayam.

Berkat itu, sapi dan ayam tidak perlu dikhawatirkan lagi.

"Terima kasih Hokage. Telah memberikan makanan kepada Rita dan yang lainnya."

"Aku yang sebenarnya yang berterima kasih disini. Jadi silakan makan sepuasnya." (Hokage)

Pasukan monyet memakan semua makanan yang mereka inginkan.

Jika seperti ini maka semuanya baik kami dan para monyet tidak ada yang mengeluh.

"Meski begitu, aku tidak ingin para monyet masuk angin karena mereka basah basahan." (Hokage)

"Aku akan mengeringkannya dengan cepat." (Mana)

Mana membelai tubuh monyet yang mengelilingi api unggun dengan tangan.

Tidak, bukan membelainya rasanya seperti mengelusnya secara cepat.

Tampaknya air yang menempel pada monyet mudah dikeluarkan dengan cara ini.

Ditambah dengan nyala api unggun, tubuh tentara monyet cepat kering.

Meski begitu, jika seseorang melakukan hal yang sama, pasti monyet itu akan masuk angin.

Bagaimanapun, pasukan monyet jauh lebih kuat dari kita.

"Kalau kita memang bisa bertahan disini, tapi bagaimana dengan grup yang lain yah?" (Hokage)

Aku ingin tahu tentang keadaan grup Reito dan Sasazaki.

Grup Reito mungkin masih bertahan entah bagaimana.

Ini karena dia berada di gua yang mengusir Sasazaki dan lainnya.

Selama memiliki cukup makanan, itu akan baik-baik saja untuk sementara waktu.

Di sisi lain, Grup Sasazaki tampaknya berbahaya.

Amane melaporkan bahwa mereka berbasis di sebuah gua kecil.

Gua itu cukup besar untuk menampung hanya sekitar 10 orang bahkan jika memaksa mendorong orang masuk.

Namun, ada puluhan anggota di tim Sasazaki.

Sulit bagi semua orang untuk masuk ke dalam gua.

Selain itu, jika itu adalah gua yang hanya dapat menampung sekitar 10 orang, hujan dan angin akan masuk.

Itu pasti sangat sulit.

"Aku harap besok bisa berhenti, badainya." (Hokage)

Hari ini juga merupakan hari yang dihabiskan dengan gabut.

◇ ◆ ◇

Rabu, 27 November.

Aku terbangun dengan suara hujan dan angin pagi ini juga.

Hari ini badai lagi.

Suara hujan dan angin lebih kencang dari kemarin.

Karena kami mulai tidur di ruang terbuka dari tadi malam.

Tidur dibelakang memang tidak apa-apa, namun aku hanya berjaga-jaga saja jika situasinya memburuk saat kami semua tertidur.

"Yare yare." (Hokage)

Aku mengangkat tubuh bagian atasku dan melihat sekeliling.

Futon Meiko dan Yoshiokada tidak berawak.

Rupanya keduanya sudah bangun.

Namun, aku tidak dapat menemukannya di sini.

"Kurasa mereka tidak akan pergi keluar dalam cuaca seperti ini ..."

Aku terkejut.

"Jangan-jangan, Meiko dan Yoshiokada..!?"

Aku berkhayal Yoshiokada mengangkangi Meiko.

Aku tidak dapat membayangkannya dengan mudah, tetapi aku dengan putus asa membayangkannya.

Itu pasti rekomendasi Hinako dari Yoshiokada.

Kecuali tinggi dan gaya rambutnya, dan perbedaannya hanya ada dua melon, jadi Yoshiokada berpikir aman untuk berganti arah ke Meiko.

(Jika demikian, aku tidak menyukainya ...)

Meskipun Meiko bukanlah pacarku atau apa pun.

Memang terkadang, aku dan Meiko melakukan hal nikmat satu sama lain dan menghilangkan hasrat seksual kami.

Karena hanya hubungan itu, aku tidak punya hak untuk mengganggunya.

Aku mengerti itu.

Meskipun aku tahu itu, perasaanku tidak enak ketika aku membayangkannya.

Aku sendiri menikmati dengan berbagai gadis juga, tetapi aku ingin para gadis menikmati hanya denganku saja.

Meskipun aku egois, itu adalah keinginan yang sangat besar.

"Tidak, tidak mungkin ..."

Jika aku memikirkannya dengan hati-hati, tidak akan ada keterikatan antara Meiko dan Yoshiokada.

Meskipun aku pikir begitu, aku tidak bisa tidak khawatir tentang hal itu.

Aku berdiri dan berjalan ke belakang tempat persembunyian dengan wajah yang khawatir.

(Aku mohon...! Meiko...! Kamu jangan dicemari cowok lain...!)

Saat aku menyusuri lorong, aku mendengar sebuah suara.

"Ahh,,, itu disitu,,, nikmatnya,,, itu tak tertahankan."

Itu suara Yoshiokada.

Rasanya aku belum pernah mendengarnya sebelumnya.

(Kau…… bercanda,…… kan……)

Aku meragukan telingaku.

Aku berdiri di tempat dan memfokuskan semua sarafku ke telingaku.

Akibatnya, aku mendengar suara yang sama dari Yoshiokada.

Tidak ada keraguan tentang hal itu lagi.

Di luar bagian ini, Yoshiokada tenggelam dalam kesenangan.

Dan tidak ada orang lain selain Meiko yang memberinya kesenangan.

Lagipula, ada semua orang kecuali Yoshiokada dan Meiko di ruang terbuka.

Mengingat struktur tempat persembunyian, tidak mungkin bagi anggota lain untuk melakukan itu.

(Hentikan, tolong hentikan itu...!)

Di sini aku mengambil tindakan yang luar biasa.

Jika aku adalah orang yang masuk akal, ini adalah adegan di mana aku diam-diam pergi mundur.

Namun, aku semakin dekat dengan mereka.

Aku tidak bisa mengendalikan keinginanku untuk eksklusivitas.

(Mu~mungkin ini hanya kebetulan saja. Aku tidak mendengar suara itu…… Ya, ayo lakukan itu. Begitulah aku akan muncul di adegan Yoshiokada dan membuatku merasa lemas.)

Langkahku semakin cepat.

Bersamaan dengan itu, suara Yoshiokada menjadi lebih keras.

Kemudian, aku tiba di bagian terdalam dari lorong berbentuk S.

"Maaf! Aku tidak sengaja lewat―――――!!!!" (Hokage)

Kata-kataku terhenti di tengah jalan.

"Hiiiii!" (Yoshiokada)

Yoshiokada melihat ke belakang dan berteriak.

Benar saja, dia memperlihatkan bagian bawah tubuhnya.

Penis kecil yang tidak ada bandingannya denganku dalam keadaan ereksi penuh.

Namun, sejak saat itu, itu tidak terduga dan tidak seperti yang diharapkan.

"Meiko...tidak ada?"

Di~disana hanya ada Yoshiokada.

"Shi~Shinomiya-san!! ini, ini. aku bisa menjelaskannya!?!?"

Yoshiokada dengan gugup berbicara.

Tangan kanannya masih memegang penisnya.

"Yoshiokada terengah-engah sendirian ... Yoshiokada memegang penis ke dinding di mana tidak ada seorang pun di sana ... Ini ... dengan kata lain ..." (Hokage)

Kepalaku yang masih bingung sedang diluruskan. Dan aku sampai pada kesimpulan yang sangat tepat.

"Yoshiokada... Apa kau melakukannya sendiri..." (Hokage)

Yoshiokada melihat ke bawah sambil membuat wajahnya merah padam.

"Yoshiokada-kun, ada apa? Eh. Kamu bersama dengan Shinomiya-kun toh. Kena―――pa Yoshiokada-kun, apa yang kamu lakukan!?" (Meiko)

Meiko muncul dari belakangku.

Meiko memang muncul pada waktu yang tidak tepat.

Terlebih lagi, Meiko memperhatikan Yoshiokada yang telah mengekspos bagian bawah tubuhnya.

Ini adalah pukulan yang mematikan.

"Hi, ~Hiiiiiii!!!" (Yoshiokada)

Ketika Yoshiokada dipergoki, dia pingsan dengan uap dari seluruh tubuhnya.

【123: Lupakanlah Yoshiokada】

Kasus masturbasi Yoshiokada adalah rahasia antara aku dan Meiko.

Sangat disayangkan untuk mengatakannya langsung, dan itu menciptakan celah dalam grup.

Kami menghormati martabatnya dan penis kecilnya.

"Apakah kamu akhirnya bangun, Yoshiokada" (Arisa)

"Eh, Apakah aku ketiduran?"

"Tidak apa apa, jika kamu ketiduran karena hari ini masih ada badai." (Arisa)

Yoshiokada yang pingsan bangun setelah semua orang bangun.

Kami khawatir karena Yoshiokada tidak bangun saat sarapan.

"Aku dengar dari Hokage! Kamu pingsan di lorong!" (Arisa)

Arisa mengajak bicara dengan Yoshiokada yang bangun.

Aku dan Meiko menatap Yoshiokada dengan wajah tegas.

Aku mencoba melakukan kontak mata entah bagaimana.

Aku belum membicarakan kasus masturbasinya.

Jadi Yoshiokadabisa yakin.

"Eh, apakah aku pingsan di lorong?." (Yoshiokada)

Yoshiokada dalam kondisi baik.

Di sisi lain, Meiko dan aku terkejut melihatnya seperti itu.

"Apakah kamu tidak ingat? " (Hokage)
(Kami melihat hal yang sangat buruk.)

"Ya, aku tidak ingat sama sekali. Maaf. aku tidak yakin, tetapi kalian membawaku ke sini yang pingsan di lorong. Terima kasih." (Yoshiokada)

Ketika Yoshiokada berdiri, dia membungkuk dalam-dalam ke arahku.

Dari situasi itu, sepertinya dia benar-benar tidak ingat apa-apa.

"Aku pikir kau mengalami gangguan ingatan karena menabrak bagian keras batu, tetapi aku senang kau aman. Jika kau sudah sarapan, kau bebas hari ini." (Hokage)

"Aku mengerti" (Yoshiokada)

Ketika aku berdiri, Meiko dan aku menuju ke lorong.

"Ada apa dengan Yoshiokada-kun yah?" (Meiko)

"Ini hanya kemungkinan saja....". Aku melanjutkan kata kataku.

"Mungkin kehendak Yoshiokada secara paksa melupakan hal tersebut. Orang-orang cenderung merusak ingatan mereka jika mereka terlalu terkejut." (Hokage)

"Jadi begitu ya. Itu memang memalukan sih, ketika kamu dilihat seseorang. Aku bisa mengerti karena aku juga merasakan hal yang sama?" (Meiko)

Meiko menatapku sambil menyeringai.

"Maafkan aku tentang itu." (Hokage)
Aku tertawa pahit.

"Tapi Meiko pada waktu itu cukup erotis." (Hokage)

"Moo, jangan katakan itu, itu memalukan tahu." (Meiko)

Aku kebetulan mengintip masturbasi Meiko.

Itu adalah peristiwa serius yang memicu aku untuk lulus dari keperjakaan.

Aku ingat waktu itu dengan baik.

Meiko yang duduk di atas batu dan masturbasi vaginanya dengan jari-jarinya.

Dia terengah-engah setiap kali jari-jarinya yang lentur bergerak. berkali-kali.

Gara gara itu kami melakukan hal nikmat bersama

"Aku sudah terangsang ketika membicarakan hal ini." (Hokage)

Aku melirik Meiko.

"Ehh, padahal sehari sebelum kemarin, kamu baru saja melakukannya dengan Hinako, kan?" (Meiko)

"Huh, mengapa kamu tahu itu...!" (Hokage)

"Aku bisa tahu hanya dengan melihat Hinako." (Meiko)

"Seperti yang diharapkan Kakak perempuannya ...! Jadi, apakah aku tidak boleh bermain dengan onee-san~nya?" (Hokage)

Sambil berjalan, aku meletakkan tanganku di pinggang Meiko.

Meiko tidak menyingkirkan tanganku.

"Mau bagaimana lagi deh" (Meiko)

Kami menuju ke tempat Yoshiokada dipergoki.

Di sana, aku meminta Meiko untuk membuatku ejakulasi hingga buah zakarku kosong.

Menyegarkan sekali!

◇ ◆ ◇

Kamis, 28 November.

Cuaca hari ini adalah――― masih badai.

Badai yang dimulai sejak siang hari Minggu itu masih berlangsung.

"Apakah ini benar-benar akan berhenti!" (Arisa)

Setelah sarapan, Arisa berteriak sambil melihat laut.

"Tapi hujan dan anginnya lebih lemah dari kemarin?" (Shiori)

Setelah mengatakan itu, Shiori segera menambahkan, "Atau mungkin telinga kita baru saja terbiasa."

Menanggapi pernyataannya, semua orang setuju. dan berpikir "Ini memang seperti hujan dan anginnya lebih lemah daripada sebelumnya"

"Mungkin akan berhenti hari ini atau besok." (Shiori)

Stok makanan kami lebih dari sebulan.

Itu mungkin untuk menghabiskan dua minggu hanya karena itu tepat di sebelahnya.

Bahkan jika itu membusuk, kita bisa pergi ke lemari es alami, kami dapat memasukkan sebanyak yang kami inginkan.

Kulkas selalu menjadi tempat yang dingin seperti di dalam lemari es.

Itu terletak di luar danau dan menyimpan banyak makanan di sana.

Tidak ada lemari es yang sebenarnya.

Alasan kami tidak pergi ke lemari es adalah karena kami harus melalui danau.

Danau ini adalah barisan tiang, jadi ketika melewatinya, kami akan dihantam oleh hujan dan angin yang tak ada habisnya.

Oleh karena itu, kami tidak bisa mandi setelah badai.

Ini sudah saatnya kami merindukan untuk mandi.

"Ini akan berakhir besok! jadi bertahanlah kalian semua. Lihatlah!"

"""OOOOOHHHH!""". Kami menanggapi kata-kata Arisa dengan mendorong tangan kanan kami keatas.

Namun, itu adalah sebuah kesalahan.

Badai tidak berhenti keesokan harinya.

【124: Koki yang Tidak Puas】

"Badai akan berhenti besok." (Arisa)

Besok, Jumat, 29 November, melanjutkan kata kata itu....

Badai berlanjut dari pagi hingga malam pada hari ini juga.

"Ini secara mental lebih sulit dari yang aku harapkan." (Hokage)

Terjadi perubahan pola pikir kami.

"Ini akan berhenti besok." Segera setelah badai, kami berpikir seperti itu

Cuaca di pulau ini pada dasarnya baik, dan hujan serta angin tidak akan berlangsung lama.

Jadi aku tidak berpikir mendalam.

"Ini aman dan kami punya cadangan makanan, jadi kami bisa menghadapinya." Aku berpikir seperti itu untuk selama beberapa hari berikutnya.

Kekhawatiran terbesar adalah risiko keamanan.

Aku khawatir apa yang harus dilakukan jika tsunami menyerbu ruang terbuka dan lorong-lorong.

Namun, sepertinya tidak ada masalah, jadi aku lega.

Sungguh menyakitkan bahwa badai tidak berhenti, tetapi tidak ada yang salah dengan hidup.

Aku berpikir bahwa kami harus menunggu perlahan.

Dan sekarang, kami berpikir seperti ini.

[Kapan akan berhenti?]

Aku pikir mungkin tidak akan pernah cerah lagi.

Pada saat seperti itu, aku ingin teknologi『Perkiraan Cuaca』, yang merupakan alat yang berguna untuk peradaban.

Meskipun biasanya tidak akurat dan aku akan mengatakan, "Hujan akan turun meskipun kemungkinan presipitasi adalah 10%, itu bohong."

Aku ingin gadis cuaca mengatakan, "Ini akan segera baik-baik saja, jadi mari kita tenang."

Sementara kami tidak tahu kapan akan baik-baik saja itu menyakitkan secara mental.

◇ ◆ ◇

Sabtu, 30 November.

Badai berlanjut pada hari ini juga.

Namun, momentumnya melemah.

Angin dan hujan begitu kuat ...

"Sepertinya besok akan mulai reda." (Hokage)

Kekuatan badainya terlihat melemah kemarin dari hari sebelum kemarin dan hari ini dari kemarin.

Ombak mulai kembali tenang, dan tidak ada tanda-tanda tsunami akan terjadi.

"Kita tidak bisa lengah, karena mungkin akan ada angin topan menerjang." (Karin)

Karin-lah yang membuat agar tidak membuat dedak senang.

Seperti yang Karin katakan, kemungkinan menjadi angin topan tidak dapat dikesampingkan.

Namun, itu masih bagus.

"Tidak apa-apa untuk sesaat. Jika cerah, itu saja." (Hokage)

Semua orang mengangguk.

Kami hanya ingin keluar sekarang.

Aku ingin mandi.

"Mau bagaimanapun, mau besok akan cerah, atau bahkan lebih buruk, tempat ini mungkin akan aman aman saja dengan topi ini." (Meiko)

Meiko sedang membuat topi selama badai.

Topi adalah alat berbentuk kerucut yang biasa dipakai orang di kepala mereka.

Seperti payung modern, payung ini melindungi dari air hujan.

Namun, hanya kepala yang bisa dilindungi oleh topi ini.

Tubuh akan basah secara normal.

Ini lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Apapun yang terjadi kita akan melewati ini.!" (Hokage)

"" OOHHH! ""

Kami menghabiskan waktu kami dengan perasaan yang kuat.

◇ ◆ ◇

Matahari telah terbenam.

Momentum badai melemah.

Ini adalah jumlah yang masih mengerikan dari curah hujan untuk menggambarkannya sebagai hujan lebat.

Angin masih kencang dan aku tidak ingin keluar.

"Aku mau memasak!" (Eri)

Eri berteriak sesaat sebelum makan malam.

Sambil duduk di depan api unggun, itu lucu.

"Bukankah masih bisa memasak dengan mudah?" (Hokage)

kataku sambil tertawa.

"Aku tidak suka ini!" Eri menggembungkan pipinya.

"Aku suka memasak!" (Eri)

Sejak kemarin, makanan kami adalah makanan yang diawetkan.

Terutama daging kering, kacang-kacangan, dll.

Oleh karena itu, kami tidak memasak masakan hangat.

"Aku sudah tidak tahan!! Aku akan membuat sesuatu!" (Eri)

Eri berdiri.

"Apa yang kamu lakukan dengan bahan-bahannya ketika kamu membuat sesuatu?" (Hokage)

"Ambil dari kulkas!" (Eri)

"Tidak, tidak. Ini masih hujan. Kamu bisa masuk angin." (Hokage)

"Tidak apa-apa karena aku akan memakai topi!" (Eri)

Eri meminjam topi dari Meiko dan memakainya di kepalanya.

Tampaknya terlalu besar untuk kepala kecilnya dan itu konyol.

Tidak heran.

Topi itu dibuat untukku.

Karena bahannya sedikit, itu dibuat hanya untukku saja.

"Tunggu saja, aku akan membuat sesuatu!" (Eri)

Eri menghilang ke lorong.

"Dia memang seorang pekerja keras yah!. Kakkakka" (Arisa)
Kata Arisa sambil tertawa

Orang-orang lain memiliki reaksi menyenangkan yang sama dari awal hingga akhir.

aku tidak terlalu peduli pada awalnya.

(Tidak, tunggu dulu.)

Setelah beberapa saat, aku menjadi tertarik.

(Jika begitu ini akan berbahaya jika Eri melewati air terjun)

Sulit untuk mengatakan bahwa Eri sekarang memiliki visibilitas yang baik karena ukuran topi yang tidak cocok.

Berbahaya melewati danau dalam situasi seperti itu.

Karena tanah tempat persembunyian termasuk danau adalah bebatuan.

Jika terkena air hujan untuk waktu yang lama, itu secara alami akan tergelincir jika berlendir.

Ada risiko jatuh jika Eri tidak pandai melakukannya.

"Aku akan melihat Eri." (Hokage)

Setelah memberitahu semua orang ke mana harus pergi, aku mengikuti Eri.

【125: Permintaan Maaf Dari Koki (R18)】

Aku bisa menyusul Eri di depan danau.

"Ada apa? Aku sendirian tidak apa-apa kok" (Eri)

Eri terlihat terkejut saat melihatku.

"Aku khawatir kau terpeleset dan jatuh." (Hokage)

"Tidak apa-apa" (Eri)

Saat berikutnya setelah mengatakan itu, Eri tergelincir dengan mulus.

Untungnya, aku menangkap tubuhnya mengambang di udara.

"Tuh kan, dibilang juga apa." (Hokage)

"Uuu..." (Eri)

Ketika Eri berdiri, dia menarik topi yang dia kenakan.

Aku kemudian, memegang topi yang ditarik di tangannya dan mengangkat topinya.

"Berhati hatilah. karena itu sangat berbahaya" (Hokage)

"Te~terima kasih ..." (Eri)

Wajah Eri memerah karena suatu alasan.

"Ada apa? Wajahmu merah loh." (Hokage)

"Tentu saja, aku sangat malu." (Eri)

Aku tidak mengerti. Padalah tidak masalah jika hanya malu.

"Baiklah, ayo kita pergi" (Hokage)

"Ya, tapi bagaimana dengan Hokage-kun? Kamu basah kuyup." (Eri)

"Tidak apa-apa. aku hanya perlu berganti pakaian dan menghangatkan tubuhku dengan api unggun." (Hokage)

"Itu benar sih, tapi kamu mungkin bisa masuk angin." (Eri)

"Ini masih lebih baik, daripada kokinya yang jatuh"

Mana yang harus diprioritaskan, aku atau Eri?

Ketika prioritasnya untuk group, tentu saja jawabannya adalah Eri.

Bahkan jika aku jatuh sakit, Karin bisa mengambil alih posisiku.

Namun, saat Eri sakit, tidak ada yang cukup bagus untuk menggantikannya.

“…………”

Eri tidak mengatakan apa-apa dan menetap di tempat.

Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, jadi aku juga menunggu dengan tenang.

Setelah beberapa saat, dia membuka mulutnya.

"Sudah kuputuskan, aku tidak akan pergi." (Eri)

"Mengapa?" (Hokage)

"Aku tidak ingin Hokage-kun masuk angin." (Eri)

"Padahal aku belum masuk angin." (Hokage)

"Tapi tinggi kemungkinan kamu akan terkena masuk angin, kan?" (Eri)

"Iya." (Hokage)

"Itulah mengapa aku berhenti bersikap egois" (Hokage)

Eri mengambil topi yang ada di atas kepalanya.

Lalu menaruhnya di kepalaku sambil tersenyum.

"Ayo kita kembali, Hokage-kun" (Eri)

"Baiklah" (Hokage)

Kami memutar balik dan mulai berjalan menuju ruang terbuka.

Namun, Eri menyimpang dari tengah jalan ke sisi jalan.

"Kita berbelok lewat sini." (Eri)

Aku langsung tahu apa yang dia rencanakan.

Oleh karena itu, aku hanya mengangguk saja.

Ketika kami berbelok dari sisi jalan, kami segera mencapai jalan buntu.

Ini memang tujuannya.

"Aku akan minta maaf karena telah mendengarkan keegoisanku." (Eri)

Eri menyandarkan punggungnya ke dinding belakang dan manaikkan lututnya.

"Ya. mohon kerja samanya." (Hokage)

Ketika aku menjawab, dia mulai melepas celanaku.

Dalam sekejap mata, celanaku dilepas dan penisku muncul.

"Hari ini juga terlihat sangat riang yah." (Eri)

Eri terkekeh dan tertawa.

Tangannya sejuk dan dingin, yang terasa nyaman.

"Hokage-kun kamu... hangat" (Eri)

"Tangan Eri dingin dan nyaman." (Hokage)

Kehangatan penis ditransmisikan ke tangan Eri.

Ini benar-benar luar biasa.

"Apakah hari ini kamu akan melakukannya dengan tangan?" (Hokage)

Eri lebih sering menggunakan mulutnya daripada tangannya.

Tapi hari ini, sepertinya Eri tidak menggunakan mulutnya.

Tidak buruk melakukannya dengan tangan. Mengocok dengan kedua tangannya.

Penisku ereksi penuh mengamuk di depan wajah Eri.

Aku berusaha keras untuk mencoba ejakulasi lebih lama.

"Apakah kamu ingin melakukannya dengan mulutku?" (Eri)

"Yaa ..." (Hokage)

"Hokage-kun itu menyukai mulutmu yah." (Eri)

"Benar ..." (Hokage)

Aku tidak bisa menyangkalnya. Aku lebih suka mulut daripada tangan.

Stimulasi fisiknya jauh lebih kuat dengan tangan.

Namun, termasuk kesenangan mental, mulut lebih dominan.

Terutama ketika datang saat ejakulasi di mulut.

"Kalau begitu yang terakhir di mulut yah." (Eri)

Eri mengisap penisku.

Pada saat yang sama, kedua lengannya melingkari pinggulku.

Dia ingin memberitahuku untuk menggoyangkan pinggulku sendiri.

Eri tahu itu adalah favoritku.

"Benar benar hebat yah." (Hokage)

Aku memegang kepala Eri dengan kedua tanganku dan menggoyangkan pinggul.

Aku terus gemetar hebat lagi dan lagi.

Setiap kali aku menggoyangkan pinggulku, suara yang tidak menyenangkan bergema.

Eri seperti itu, melihat ini dengan mata yang kenikmatan.

Dengan mata yang entah bagaimana menyihir dan erotis.

“Aaaah…! Aku tidak tahan…! Aku tidak tahan lagi…!” (Hokage)

Ditambah dengan dirangsang dengan tangan Eri pada tahap awal, itu mencapai klimaks dalam sekejap mata.

Penisku aku masukkan ke dalam mulut Eri sampai ke akarnya, dan semua saraf dicurahkan untuk ejakulasi.

"Ngu...Ngu Gugu..."

Jika aku tidak mencabut penis yang layu, Eri akan mulai menderita.

Sepertinya sulit untuk meminum air mani jika penis masih berada di dalam mulut.

"Jika kamu tidak meminum spermaku, penisku akan ereksi kembali." (Hokage)

"―――!"

Eri terkejut dengan itu.

Seiring dengan itu, penisku ereksi kembali.

Glup...!

Eri langsung meminum spermaku.

Namun, pada saat itu penis aku sudah pulih.

"Sekarang, ini putaran kedua." (Hokage)

Ada kelebihan stamina karena badai.

Aku memegang kepala Eri lagi dengan kedua tangan dan mengguncang pinggulku dengan keras.

【126: Kesibukan setelah badai】

Bagaimanapun, 30 November berakhir dengan badai yang masih berlanjut, dan Desember dimulai.

""""Uo ooooo"""

Pada pagi hari tanggal 1 Desember, kami memberikan sorakan besar.

"Akhirnya berhenti!"

Badai yang telah berlangsung selama seminggu akhirnya menghilang.

Langit cerah dan laut memantulkan sinar matahari.

Ini adalah pemandangan terbaik yang sudah lama tidak terlihat.

"Eri dan Tanaka akan menyiapkan sarapan! Sisanya akan bekerja!" (Hokage)

""""Oooo!""""

Seperti yang dikatakan Karin sebelumnya, tidak dapat dipungkiri bahwa ini mungkin akan terjadi angin topan.

Oleh karena itu, asumsikan situasi di mana badai akan kembali dalam setengah hari.

Kami meninggalkan tempat persembunyian dan mulai bekerja.

Aku memeriksa kondisi ternak dan lingkungan sekitarnya, dan mengisi kembali makanan.

"Tidak ada masalah dengan situasi sapi, ayam, dan ladang."(Hokage)

Tidak ada kelainan di lingkungan pertanian yang paling memprihatinkan.

Berkat upaya pasukan Monyet, sapi dan ayam juga baik-baik saja.

Namun, ada beberapa masalah ringan. Semua kandang sapi dan ayam sebagian rusak dan terendam banjir.

Kalau Lainnya―――.

"Ahhhhh! Rumahnya runtuh!" (Yoshiokada)

Rumah panggung itu ambruk.

Itu adalah pekerjaan Yoshiokada, dan sekarang menjadi rumah yang telah menjadi kediaman pasukan Monyet.

"Uki! Uki!"

Rita berbicara dengan Mana.

Mana menerjemahkannya.

"Rita bertanya kapan rumah itu akan dibangun kembali." (Mana)

"Maaf, tapi ini belum diputuskan. Ini adalah prioritas rendah dan menghabiskan banyak tenaga dan material, jadi itu akan dilakukan paling cepat setelah musim dingin." (Hokage)

"―――Apa,.... Maaf yah, Rita." (Mana)

"Uki..."

Rita terlihat murung.

Pasukan monyet yang berbaris di belakangnya juga terlihat sedih.

"Sebagai gantinya Aku akan memelukmu sebagai gantinya, jadi maafkankah yah." (Mana)

Mana memeluk Rita.

Wajah Rita menempel di payudaranya yang montok.

"Ukiki ......♪ "

Rita mengangkat bibirnya, menunjukkan gigi putihnya dan menyeringai.

Benar benar deh dasar monyet erotis.

"Yang lainnya juga tolong maafkan dengan ini ya." (Mana)

Mana dengan sopan memeluk monyet satu per satu.

Karena ini para monyet erotis, mereka pulih dengan mudah.

"Shinomiya-kun, kincir airnya."
Meiko datang kepadaku.

Di belakangnya ada Hinako, Sofia, dan Amane.

"Ada apa, apakah itu rusak?" (Hokage)

"Mungkin seperti itu.." (Meiko)

Aku penasaran bagaimana keadaannya. Mungkin terlihat aman tetapi tidak bekerja.

"Ayo kita lihat" (Hokage)

Aku memutuskan untuk pergi melihat kincir air bersama Meiko dan yang lainnya.

Sebelum itu, aku memberikan instruksi kepada Arisa.

"Arisa!" (Hokage)

"Ya! ada apa!?" (Arisa)

"Bisakah kamu memperbaiki atap gudang dan kandang unggas dengan laki-laki selain Tanaka!" (Hokage)

"Baiklah!" (Arisa)

Arisa mengumpulkan laki-laki dan membuat instruksi.

"Karin dan Shiori akan mengurus pekerjaan di bidang pertanian" (Hokage)

""Serahkan pada kami"" (Karin & Shiori)

"Mana, tolong kumpulkan makanan dengan pasukan monyet." (Hokage)

"Oke!" (Mana)

"" "Ukki!" ""

Dengan ini, aku menginstruksikan kepada semua orang.

"Oke, ayo pergi ke kincir air" (Hokage)

Yare yare, ini sangat sulit setelah badai berlalu.

◇ ◆ ◇

Keadaan kincir air seperti yang diharapkan.

Tidak ada masalah khusus dalam penampilan, tetapi fungsinya hilang.

"Keadaan disini baik baik saja ya. Ini tidak masalah." (Hokage)

"Bisakah kamu memperbaikinya?" (Meiko)

"Aku bisa memperbaikinya. Itu tidak rusak. aku pikir akan ada beberapa bagian tidak pada tempatnya." (Hokage)

Bagi kami, kincir air adalah mesin presisi.

Sejumlah bagian yang diproses dengan hati-hati terjalin dan bergerak.

Karena itu, jika bagian-bagiannya bergeser sedikit saja, itu akan berhenti.

"Aku akan memperbaikinya dengan cepat, jadi tim kerajinan tangan bisa bekerja seperti biasa. Meiko, aku akan menyerahkan Hinako dan Sofia dibawah komandomu." (Hokage)

"Aku mengerti" (Meiko)

Meiko kembali ke tempat persembunyian bersama Hinako dan Sofia.

"Hokage Shinomiya, apa yang harus aku lakukan?" (Amane)

Hanya Amane yang tersisa.

Ini adalah adegan yang biasanya menjadi "seks untuk saat ini".

Namun, aku tidak bisa untuk berhubungan seks sekarang.

"Aku ingin meminta Amane untuk menjelajahi daerah itu. Mungkin hewan-hewan mengungsi karena badai ini. Terutama rusa yang mengubah habitatnya, jadi jika mereka mendekat, aku ingin mengambil tindakan." (Hokage)

"Aku mengerti. Bagaimana dengan Grup Reito dan Sasazaki?" (Amane)

"Kita akan abaikan sementara" (Hokage)

Amane hanya menjawab "Ya".

Dia seperti setuju denganku.

Saat ini, Grup Reito dan Sasazaki tidak menjadi masalah.

Aku tidak berpikir mereka akan bergerak dalam badai ini.

Mereka juga pasti kesulitan karena menahan badai.

Hanya setelah lingkungan kami sedikit lebih aman kemudian aku akan memeriksa mereka.

"Yah, mari kita selesaikan dengan cepat." (Hokage)

Di kincir air sendirian, aku diam-diam menikmati pekerjaan.

◇ ◆ ◇

Ayano~desu.
Informasi tentang komikalisasi karya ini telah dirilis.
Art: Yoichi Nishio Sensei
Penerbit: Majalah Bulanan Doragon'eiji (KADOKAWA Co., Ltd.)
Tanggal publikasi: Serialisasi dimulai dari edisi Oktober hingga dirilis pada 9 September 2020 (Rabu)
Episode pertama untuk memperingatinya tampaknya akan menjadi bagian berwarna!
Tolong dibeli yah ……!

TLN: Well ini adalah catatan versi manganya anda bisa membelinya di website Dragon Age KADOKAWA jika ingin melihatnya bisa disini pada bagian adaptasi.

【127: Lompatan Besar】

Pagi telah berlalu, siang telah berlalu, dan malam telah berlalu.

Cuaca saat itu cerah, dan masih cerah.

Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, dan diputuskan bahwa tidak perlu khawatir tentang badai.

"Sudah lama aku tidak mandi!, dadah" (Arisa)

Saatnya mandi setelah makan malam.

Mandi pertama hari ini adalah Arisa, dan semua orang iri.

Ini adalah hal umum untuk menghilangkan lengket tubuh sesegera mungkin.

"Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada hari ini apakah itu akan ada badai lagi atau tidak, tetapi sepertinya itu tidak terjadi. Dan aku merasa lega tentang itu." (Hokage)

"Iya" (Mana)

Aku berbicara dengan Mana sambil mengelilingi api unggun.

Orang lain juga mengelilingi api unggun dengan cara yang sama.

Kecuali Arisa dan Karin, yang tidak ada di sini karena mandi.

"Tapi, kali ini adalah masalah dinginnya." (Hokage)

"Ini tiba-tiba menjadi dingin, bukan?" (Mana)

"Ya" (Hokage)

Ini sudah terjadi sejak saat badai, tetapi suhu disini telah turun secara signifikan.

Sampai beberapa minggu yang lalu, kami hanya mampu melapisi pakaian tipis.

Sekarang dingin ke titik di mana napas putih keluar.

"Aku harap dinginnya bisa diatasi disini ..." (Hokage)

Aku tidak tahu bagaimana suhu terdingin sampai berapa derajat.

Meskipun aku memiliki pakaian musim dingin, aku tidak suka cuaca dingin.

"Apa yang harus kita lakukan ketika dingin dan sulit bergerak?" (Sofia)

Sofia berhadapan denganku diantara nyala api unggun.

"Jika memiliki api unggun di dekatnya, yang terbaik adalah menghangatkannya di sana. Kecuali jika itu adalah tugas yang sangat penting, kita tidak perlu memaksanya." (Hokage)

"Lalu, bagaimana jika tidak ada api unggun disini?" (Sofia)

"Pada saat itu ... melompat saja." (Hokage)

"" Melompat !? ""

Semua orang terkejut.

"Aku akan demonstrasikan" (Hokage)

Dengan mengatakan itu, aku berdiri dan melangkah mundur untuk menjaga jarak dari semua orang.

Ketika aku pindah ke tempat di mana tidak ada masalah bahkan jika aku bergerak mencolok, aku merentangkan kedua kaki selebar bahu.

Selanjutnya, rentangkan kedua lengan ke samping. Ini seperti karakter "大 (dai/besar)".

"Dalam keadaan ini, lompatlah dengan sekuat tenaga dan bertepuk tangan di udara." (Hokage)

Sambil berkata, aku melompat tiba-tiba.

Segera setelah tubuh melayang di udara, aku menggerakkan kedua tangan ke atas.

Tangan itu menyentuh dan membuat suara klik tepuk tangan yang keras.

"Jika kamu melakukan ini sekitar 20 kali, tubuhmu akan menjadi hangat. Ini solusinya."

"Bohongkan!" (Mana)

"Jika melakukan ini tubuhmu akan menghangat." (Hokage)

"Apakah menurutmu begitu? Tetapi ketika kuta benar-benar mencobanya, apakah akan hangat, dengan ini." (Mana)

Mana seolah-olah tidak percaya dengan itu.

Mana datang ke arahku dan melompat dalam karakter (大) seperti yang aku lakukan.

Pada saat itu, para pria termasuk diriku sangat bersemangat.

Mana mengenakan rok hari ini. Karena itu, ketika Mana melompat, roknya tersingkap.

Aku tidak bisa melihat celana dari posisiku saat ini, tetapi pahanya sempurna.

Itu adalah paha yang bagus yang membuatku ingin merabanya.

"" "Hah..." ""
Para gadis yang bereaksi dengan tatapan mesum para lelaki.

"Ini benar! Tubuhku sudah menghangat! Ini luar biasa!" (Mana)

Hanya Mana yang tidak menyadarinya.

◇ ◆ ◇

Cuaca cerah pada hari berikutnya dan hari berikutnya.

Makanan yang berkurang selama badai telah diisi ulang.

Tidak ada kerusakan seperti ini, dan kami benar-benar membangun kembali.

Senja pada 3 Desember (Selasa).

Aku punya sedikit waktu sebelum makan malam。

"Aku akan pergi dengan Amane untuk melihat keadaan besok." (Hokage)

"Be ...gitukah ... ahhh ... ahhn ..." (Sofia)

Aku berhubungan intim dengan Sofia.

Di lorong sempit di dalam tempat persembunyian yang biasanya jarang ada yang melewatinya.

Kali ini, kami bermain sambil berdiri.

"Aku akan memintamu untuk membuat pakaian hangat dan pakaian lainnya kedepannya." (Hokage)

Sambil memasukkan jariku ke dalam vaginanya, aku berbicara dengan wajah yang polos.

“Ten……tu Huuuuu… Ahhh… Ahhhn…” (Sofia)

Sofia hampir ambruk dari lututnya.

Kedua lengannya di leherku adalah dukungan terakhir.

Apakah kondisi ini entah bagaimana lemas hanya dengan dimasukkan dengan jari?

"Baiklah" (Hokage)

Aku melepaskan paksa lengan Sofia di leherku.

"Ehhh!" (Sofia)

Benar saja, Sofia ambruk dari lututnya.

"Selanjutnya giliranmu untuk membuatku merasa nikmat ..." (Hokage)

Jam tubuh sudah memberi tahuku bahwa sudah waktunya makan malam.

Makan malam akan disajikan dalam waktu kurang dari 10 menit.

Kami harus kembali saat itu.

"Sepertinya aku tidak punya cukup waktu kali ini." (Hokage)

Aku melepas celanaku di depan Sofia.

30% ereksi penisku muncul.

"Aku tidak bisa menahannya, jadi sebagai gantinya....." (Hokage)

Karena itu, aku mengocok penisku dengan tangan kananku.

Penisku tumbuh dengan cepat di depan wajah Sofia.

Sofia melihat penisku sambil dengan putus asa mengatur napasnya.

Aku mengangkat dagu Sofia dengan tangan kiriku.

Penisku yang kupegang dengan tangan kananku melengkung tepat di atasnya.

"Apakah kamu ingin bukkake di wajahku?" (Sofia)

"Ahhn... Hhhn..."

*Shiko Shiko.

Bagaimanapun, tanganku adalah yang terbaik.

Jika aku menyukainya, aku bisa mendapatkan ereksi penuh dalam sekejap.

Selanjutnya, waktu untuk ejakulasi adalah yang paling singkat saja.

"Uuuu!" (Sofia)

Dalam sekejap mata aku ejakulasi.

Sperma berbau cumi-cumi terciprat ke wajah Sofia.

Sofia terlihat tercengang dan terus menghadapkan wajahnya padaku.

Wajah cantiknya sekarang ternoda oleh spermaku.

Ini benar-benar erotis.

"Fuuuu..."

Saat menderita mode orang bijak, aku memberi tahu Sofia.

"Aku ingin dibersihkan di bagian ini." (Hokage)

"Ya, Shinomiya-sama" (Sofia)

Sofia membuka mulutnya seperti yang kusuruh.

Aku dengan ringan meremas penis yang menempel di mulut itu.

Begitulah sisa air mani itu dimasukkan ke dalam mulut Sofia dan selesai.

"Aku kembali terlebih dahulu. Kamu akan membersihkan wajahmu dan kemudian kembali." (Hokage)

Informasi tidak guna:
大 : Karakter tersebut dibaca (dai) Jika di Indonesiakan (Besar). Sesuai dengan tulisan karakternya itu bisa dilihat seperti orang yang merentangkan tangan.

Shiko Shiko: Ini adalah SFX dalam bentuk kata-kata yaitu "kocok-kocok" jika di Sastra R18 ini biasanya dipakai sebagai seperti efek sedang mengocok Pen*s.

【128: Akhir Sasazaki】

Rabu, 4 Desember setelah fajar.

Aku memutuskan untuk pergi dengan Amane dan misi pengintaian pada sore hari.

Ini untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi pada grup Reito dan Sasazaki karena badai.

"Karin, Meiko, aku serahkan pada kalian sisanya." (Hokage)

""Oke"" (Karin,Meiko)

Aku memberikan instruksi untuk menggantikanku kepada Karin dan Meiko.

Berkat dua orang ini yang bisa diandalkan, aku bisa bergerak dengan bebas.

"Apakah kau akan mengambil jalan memutar hari ini?" (Amane)

Amane bertanya saat mendekati Gua Asakura.

Jalan memutar adalah seks dan hal-hal lain.

Aku menggelengkan kepalaku.

"Karena ada jarak antara pangkalan kedua grup. kita mungkin bertemu binatang buas di sepanjang jalan, jadi mari kita menahan diri untuk saat ini." (Hokage)

"Aku mengerti" (Amane)

Amane tampaknya kecewa.

Tidak, apakah aku yang kecewa?

"Jika saat punya waktu dalam perjalanan pulang saat itu aku ingin melakukannya." (Hokage)

"Ya" (Amane)

Kami melewati Gua Asakura dan melanjutkan perjalanan ke arah grupur laut.

Tiba di kaki bukit di mana Reito dan Byakuya pernah bermarkas.

"Bagaimana dengan bukit?" (Hokage)

Amane memilih jalan memutar tanpa mengkhawatirkannya.

Dinilai lebih cepat daripada lurus dan mendaki bukit.

"Seperti biasa, daerah ini kaya akan sumber daya." (Amane)

"Itu benar." (Hokage)

Berbagai tanaman yang dapat dimakan tumbuh secara alami di sekitar bukit.

Ada juga banyak hewan dengan kepribadian yang lembut.

Itu jauh lebih memuaskan daripada area di sekitar tempat persembunyian.

Namun, tempat persembunyiannya tidak buruk sama sekali.

Pulau ini umumnya berlimpah sumber daya dan nyaman.

Ada perbedaan tergantung pada wilayah, tetapi tidak masalah di mana itu.

"Jika seperti, kemungkinan besar mereka akan bertahan dari badai secara normal." (Hokage)

"Kalau itu gimana yah." (Amane)

"Apakah kamu memikirkan hal lain?" (Hokage)

"Bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan tentang survival, itu tidak akan terlihat sebagai bahan yang bisa dimanfaatkan." (Amane)

"Itu benar juga" (Hokage)

Menurut cerita yang kudengar dari Kageyama dan Amane, makanan mereka tidak ada rasanya.

Karena mereka tidak tahu mana yang bisa dimakan, mereka hanya bisa makan makanan yang aman.

Bahkan jika ada buah terbaik di depannya, mereka takut akan sesuatu yang tidak mereka ketahui dan tidak mengambilnya.

Ketika Byakuya masih hidup, orang-orang kelas 5 adalah pilar utama.

"Jika kamu langsung melewati hutan ini, kamu akan menemukan gua yang dihuni kelompok Sasazaki."
Amane berkata setelah beberapa saat melewati hutan.

"Sasazaki tidak akan ada harapan menurutku." (Hokage)

Aku memberikan Amane pisau survival untuk berjaga-jaga.

Bahkan jika aku menghadapi masalah yang tidak terduga, aku akan aman jika Amane bersamaku.

Jika menyerahkan senjata kepada yang terkuat bahkan dengan tangan kosong, itu akan menjadi tongkat emas untuk iblis.

"Itu yah" (Hokage)

Setelah melewati hutan, jalan kerikil tanpa rumput liar kami keluar dari semak semak.

Sebuah gua kecil muncul di dalamnya.

Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

Melihat lebih jauh dari gua, ada hutan lagi.

Sesungguhnya. Bukannya melewati hutan, rasanya seperti bagian dari hutan yang gundul.

Bagaimanapun, aku dan Amane mendekati gua.

Amane berjalan pertama, dan aku mengikuti di belakangnya.

"Apakah ada tanda-tanda kehidupan?" (Hokage)

"Tidak" (Amane)

Kata-kata Amane tegang. Dia sudah dalam mode waspada.

"Mungkinkah, bagian dalam gua sudah tidak ada orangnya?" (Hokage)

Aku berlari melewati sisi Amane dan berputar ke pintu masuk gua satu langkah di depan.

Dan aku menghela napas.

"ini……" (Amane)

Amane yang datang setelah itu juga terkejut hingga membuat wajahnya terkejut.

"Kehadiran orang memang tidak terdeteksi, ini mah…………" (Hokage)

Seperti yang aku dengar, itu adalah gua kecil yang hanya dapat menampung sekitar 10 orang bahkan jika dipaksa untuk masuk.

Semua anggota grup Sasazaki ada di sana.

―――――"Mati"

Semuanya dalam keadaan mati tanpa terkecuali.

Ketika Amane memeriksanya, sudah dipastikan mereka semua telah meninggal.

Baik anak laki-laki maupun perempuan mati tanpa kecuali. Jumlahnya 14 orang.

Tampil juga sang leader, Sasazaki Daiki.

"Aku tidak tahu penyebab kematiannya karena tidak ada trauma yang terlihat." (Amane)

"Mungkin kematiannya karena lemas," tebakku.

Kelaparan untuk waktu yang lama dan badai selama seminggu ditambahkan.

Sangat mudah untuk membayangkan bahwa tubuh dan pikiran telah kelelahan sampai batasnya.

Di tempat pertama, itu adalah keajaiban bahwa mereka telah hidup sampai sekarang.

Ada banyak tanaman yang dapat dimakan di pulau ini, dan iklimnya sejuk.

"Bagaimana ini?" tanya Amane.

Meskipun ada 14 mayat di depannya, Amane tidak tersentuh. Seperti yang diharapkan dari Amane.

Yah, aku juga tidak bergerak sih.

"Untuk saat ini, kita akan mengumpulkan tas dan pakaian siswa. aku ingin menguburnya jika memungkinkan, tetapi tidak mungkin untuk menguburkan mereka semua hanya dengan kita saja." (Hokage)

"Sebenarnya sulit juga untuk membawa kembali tas 14 orang yang sudah meninggal." (Amane)

"Aku tahu. Jadi mari kita urutkan isi tasnya dulu. Jika kita meninggalkan buku pelajaran, kita bisa mengurangi beratnya." (Hokage)

Kami membagi isi tas dan menyebarkannya.

Aku perhatikan itu, tetapi ada lebih sedikit buku teks daripada yang aku harapkan.

"Sepertinya itu mereka membakar buku teksnya." (Hokage)

Sebagian besar buku pelajaran dibakar.

Aku menemukan beberapa buku teks yang kupikir akan di bakar.Itu kacau dari halaman tengah.

"Setelah itu, mari kita kemas tas di dalam tas dan membuatnya mudah dibawa." (Hokage)

"Kamu pintar juga ya, Hokage Shinomiya" (Amane)

"Aku hanya baru memikirkannya saja." (Hokage)

Dengan cara ini, 14 tas disatukan. Akhirnya, jumlah tas menjadi enam.

"Grup Sasazaki memiliki kurang dari 30 orang." (Hokage)

Pasti ada hampir 40 orang ketika grup tersebar.

Tampaknya hampir 40% dari perlawan terhadap reito dan kematian telah menurun.

"Ngomong-ngomong, di mana tas orang-orang yang mati sebelum badai? Dan juga seragamnya." (Hokage)

"Mereka meninggalkan mayat di tempat terpencil. aku tidak ingat tasnya. Akan aku tunjukkan jika aku pergi melihatnya." (Amane)

"Tidak, itu tidak masalah. Itu sudah cukup." (Hokage)

Seragam 14 orang dilucuti dan dimasukkan ke dalam tas.

"Aku punya banyak barang bawaan dan merepotkan untuk pergi menemui grup Reito apa adanya. Mari kita kembali ke tempat persembunyian hari ini. Pengintaian grup Reito akan berubah besok." (Hokage)

"Aku mengerti" (Amane)

Itu buruk untuk grup Sasazaki, tetapi dikatakan bahwa panen kali ini bagus.

Aku sangat senang hanya dengan 14 tas dan seragam untuk 14 orang.

Selain itu, ada berbagai hal yang tersisa yang bisa digunakan.

Misalnya alat make up.

Kuas dan kapas juga berguna untuk pekerjaan di tempat persembunyian.

Kotak make-up nilon juga sangat baik sebagai tempat aksesori.

Aku pribadi menghargai kondom.

Ada kotak kondom baru di tas beberapa orang.

Setiap kotak berisi sekitar 10 atau 12 buah.

Yang lain memiliki kondom yang tidak digunakan di dompet dan buku catatan siswa mereka.

Aku khawatir itu bukan ukuran L, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Aku mengambil kondomnya secara acak.

Karena merupakan item yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup sekaligus aktivitas seksual.

Itu tidak besar dan tidak menghalangi tidak peduli berapa banyak.

"Kalau begitu, Selamat tinggal, Sasazaki"

Mengucapkan selamat tinggal pada mayat Sasazaki, kami kembali ke tempat persembunyian.

Prev Chapter
Next Chapter
Prev Chapter
Next Chapter